
"Membangun Literasi Kritis sejak Dini melalui Pengalaman yang Bermakna”, mengingatkan kita bahwa tugas guru hari ini bukan hanya mengajar, tetapi menghidupkan pengalaman belajar. Literasi kritis tidak tumbuh dari lembar kerja semata, melainkan dari rasa ingin tahu anak, dari pertanyaan sederhana mereka, dari kesempatan untuk mencoba, keliru, lalu belajar kembali.
Di jenjang usia dini, anak-anak belajar dengan seluruh indranya melalui bermain, bercerita, bereksplorasi, dan berinteraksi. Di situlah peran kita menjadi sangat penting: mendesain pengalaman yang bermakna, yang membuat anak berpikir, bertanya, dan memahami dunia dengan caranya sendiri.
Melalui pembinaan hari ini, diharapkan Bapak dan Ibu guru tidak hanya membawa pulang materi, tetapi juga ide, inspirasi, dan keyakinan bahwa apa yang kita lakukan di kelas setiap hari meski tampak sederhana sesungguhnya sedang membangun fondasi berpikir anak untuk masa depannya.
